Rabu, 24 Oktober 2018

Sumpah Pemuda

Sumpah Pemuda Masa Kini

Peristiwa pada 28 Oktober 1928 bukanlah momen bersejarah yang biasa-biasa saja. Seremonial pada hari itu mendapat kehormatan luar biasa dan dinyatakan sebagai satu tonggak sejarah Republik Indonesia.

Pada 28 Oktober 1928, terbentuk bangsa (nation) Indonesia, seiiring putusan (ikrar) untuk mengikat diri kepada spirit persatuan. Satu Tanah Air, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia! Sejak peristiwa tersebut, simpul-simpul kebangsaan mulai terajut kuat. Kesadaran dan komitmen rakyat untuk mendahulukan kepentingan bangsa tanpa sekat etnis, bahasa, bahkan agama, mulai tumbuh.

Bentuk dan pola perjuangan guna memerdekakan dan memajukan Indonesia pun kian terasa solid. Akhirnya, kita membuktikan diri mampu menjadi bangsa merdeka, berdaulat, dan bermartabat, serta sederajat dengan negara-negara besar lain di dunia.

Pemuda Masa Kini 

Dalam kondisi kekinian, sebaiknya pemerintah menggunakan momentum Sumpah Pemuda sebagai media untuk menghimpun kesadaran bahwa mendahulukan persatuan dan kepentingan nasional sangatlah penting, terutama untuk konteks Pilkada Serentak 2017.

Dus, bagi generasi muda, apapun posisinya, di titik ini sekiranya harus bisa memaknai (kembali) apa yang diamanahkan oleh satu Proklamator Kemerdekaan, Bung Hatta: "Kaum intelegensia Indonesia mempunyai tanggung jawab moril terhadap perkembangan masyarakatnya. Apakah duduk di dalam pimpinan negara dan masyarakat atau tidak, ia tidak akan lepas dari tanggung jawab itu!”

Dalam konteks kekinian, apa yang telah diamanahkan oleh Bung Hatta semestinya bisa dimaknai sebagai rem atau lonceng pengingat agar kita tidak kebablasan melakoni hidup di zaman yang serba mengedepankan kebebasan ini. Generasi penerus wajib mampu meminimalisasi dampak era yang didominasi oleh spirit kapitalisme. Jangan terperangkap dalam budaya (sikap hidup) hedonis/materialistis serta individualistis.

Amanah dari Bung Hatta seharusnya menjadi pedoman Revolusi Mental bagi generasi kekinian. Saatnya menumbuhkan kesadaran dan komitmen untuk menjalankan tanggung jawab moral/sosial supaya pendidikan tak melulu ditujukan untuk sekadar meningkatkan taraf kemakmuran bagi diri sendiri dan kolega.

Pemuda, jangan sekali-kali mengkhianati Sumpah Pemuda. Kepentingan dan persatuan bangsa adalah utama. Jangan rusak negara ini oleh perbedaan-perbedaan dan kepentingan sempit semata. Sebab, tanpa ada pemaknaan terhadap semangat dan nilai-nilai tersebut, bukan tak mungkin kita hanya akan menjadi bagian dari sampah pemuda.

Sumber : http://jateng.tribunnews.com/2016/10/28/sumpah-pemuda-masa-kini?page=2


Tidak ada komentar:

Posting Komentar